Desember 11, 2015

Penulis Kambuhan

Ada kalanya dulu, bertahun-tahun silam, di beberapa malam saya menuturkan sebuah cerita -yang tentunya saya karang- pada adek saya sebelum tidur. Kebanyakan cerita dari buku pelajaran bahasa indonesia yang lalu saya kembang-kembangkan. Barangkali saya harus menkonfirmasi kepada dia apa masih ingat atau justru sebaliknya. Mungkin juga dia mau mendengar karena terpaksa! Haha!

Lalu dikemudian hari, saya gemar menulis cerita. Kebanyakan tentang mengembangkan (istilahnya sekarang reintrepretasi! :D ) dari sinetron yg saya tonton (what the f! Yak saya penonton sinetron karena mengikuti kegemaran ibuk saya bahahahak). Cerita saya tulis di sebuah buku bekas buku ulangan yang sudah tak terpakai. Entahlah kemana buku-buku itu sekarang.

Saya juga penulis diary. Dari SD hingga SMA. Mulai dr buku biasa sampe yang bentuknya ada kuncinya. Dan saya yakin pasti si ibuklah pembaca setia-nya hahaha! Kemana mereka semua? Entahlah. Kala itu saya bukan tipe anak extrovert (sekarang?!) yang mau mempublikasikan perasaannya. Jadi buku diary, habis kemudian dibuang.

Pernah menulis cerpen lalu menang di sebuah kompetisi. Beberapa kali menulis cerpen dikirim ke media, sayang tak lolos. Masa kuliah saya begitu aktif menulis lagi. Menulis tugas kuliah! Haha! Mahasiswa jurnalistik wajib menulis berita lho tiap pekan.

Impian saya menjadi penulis fiksi terpupuk. Lalu terlupakan diantara denyutan kesibukan pekerjaan hingga kini. Sampai beberapa jam yang lalu, muncul pesan singkat dari Bapak "Bapak minta dibuatin cerpen ya, buat nyusun buku pendamping pelajaran bahasa indonesia."

Pesan pemantik. Membuat saya merenung lalu menulis hal panjang ini tadi. Menjadi penulis fiksi masih impian. Menemukan nama saya berjejer di rak toko buku senusantara masih harapan. Mudah-mudahan!


*lanjutin nulis cerita-cerita yang baru openingnya aja :D :D :D*

1 komentar:

  1. Lanjot lah mbak, we will never know until once we try ^^

    BalasHapus