Mei 29, 2015

Membuktikan "Katanya..."

Pagi ini, subuh-subuh kami (saya dan adek) tertawa -getir- bersama. Tentang delete contact, unfollow, blocked, akun media sosial kami oleh... ngg... mantan saya. Kenapa kami, karena tadinya si adek juga temenan akun sosmed dengan mantan.

Saya sih pada akhirnya, yasudahlah... itu pilihannya. Dan pasti ada alasannya kok.

Kami pernah bersama, lalu berpisah. Teman kami merupakan teman yang sama, saya rasa itu mustahil diingkari, bukan berarti demi "move on" saya lalu menghapus semua jejak masa lampau saya (kami). Ketika kami selesai, tak serta merta saya meminta adek saya lalu memutus hubungan pertemanannya dengan mantan.

Tapi, ketika adek saya kemudian berkelakar dia bilang sudah tidak berteman di media sosial karena sepertinya diblocked, kami hanya tertawa bersama. Dalam tawa, kami semacam membenarkan yang tadinya hanya sebuah kalimat "katanya". Bahwa katanya berakhirnya sebuah hubungannya percintaan, buntutnya panjang terhadap hubungan pertemanan yang ada dilingkaran kedua belah pihak. Aha, ternyata benar! Haha!




"Aku sudah mulai lupaSaat pertama rasakan laraOleh harapan yang pupusHingga hati cedera serius-Terlatih Patah Hati, The Rain 


Mei 28, 2015

Waktu Berubah. Atau Kita?

Perasaannya berantakan. Malam ini ia tidur memeluk si bungsu mengelus rambut panjangnya sesekali menyeka air mata yang masih turun membelai pipinya.

Masih lekat terngiang bentakan Andra di telinganya, "Apa yang kamu banggakan dari karir yang terus naik kalau keluargamu berantakan?!"

Ia tak suka konfrontasi. Maka ia memilih menyingkir dari perdebatan menuju kamar si bungsu. Si sulung sedang menginap di rumah tantenya. Hari ini ia terlambat menjemputnya pulang les, karena meeting di kantor molor berjam-jam dari jadwal semula.

Ia sudah meminta maaf tak bisa menjemput si sulung. Benar bahwa hal ini bukan pertama kalinya, beberapa kali sulung harus menginap di rumah tantenya karena terlalu larut untuk membawanya pulang.

Tapi protes Andra memancing amarahnya juga akhirnya. Andra menyoal pekerjaannya, yang bahkan Andra sendirilah yang memberi restu untuk ia mau dipromosikan jadi supervisor di kantornya. Baru beberapa bulan dan lalu sekarang Andra mempersoalkannya.


*Tempora mutatur et nos mutatur in illis
Waktu berubah dan kita pun berubah di dalamnya (pepatah Latin)


#fiksimini

Mei 21, 2015

Cara Tuhan

Kadang kurasa lelah,
Harus tampil sempurna
Ingin kuteriakkannn... Rocker juga manusia...
~

Saya bukan rocker, saya orang biasa.

Hari bertambah, usia berkurang. SD dekat kantor masih riuh polah teriak anak-anak meski sudah hampir kena gusur. Lahan parkir dekat kantor makin berkurang, menang oleh saudagar bangunan. Banyak pegawai baru datang, meski tak sedikit kawan seangkatan yang lulus duluan. Sementara saya, sembari menghitung waktu mencoba peruntungan dari situs penyedia lowongan. Barangkali, saya ada kesempatan menimba ilmu di tempat lain.

Kabarnya, amanah itu diberi. Dikasih oleh Tuhan. Sama halnya quote "Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan". Yang artinya, amanah yang kita pegang sekarang semata-mata sudah dihitung Tuhan bahwa kita sanggup. Dan menurut Tuhan itu yang terbaik buat kita, meski sering kali -saya- misuh-misuh juga kenapa saya diberi amanah sedemikian susah.

Lalu bahwa susah atau mudah sebenarnya hanya soal perspektif. Memandang satu hal dari sudut lain, supaya yang kelihatannya susah bisa jadi malah mudah. Coba berpikir out of the box supaya yang susah menjadi mudah. Barangkali ini justru PR besar selanjutnya, out of the box yang seperti apa??

Kosan pindah ke tempat yang lebih nyaman, buktinya alergi bersin-bersin saya berkurang bahkan nyaris hilang. Meski sempit kamarnya. Tiap malam terdengar ramai orang-orang kampung main badminton di lapangan depan kosan. Seperti malam sekarang. Pastilah Tuhan pun punya alasan, menunjuk saya tinggal di kamar kos ini. Barangkali akibatnya belum nampak, yang jelas saya jadi bisa pulang teratur, tak bisa larut, karena aturan kos yang ada jam malam.

Yah, begitulah memang Tuhan bekerja.