Mei 19, 2016

Mbak, Carikan Aku Calon!"

“Mbak, carikan aku calon!” Rekan kerja saya tiba-tiba berkata demikian. Saya rasa, dia sudah terlampau desperete dalam pencariannya mencari istri. Di pertengahan tiga puluh-nya sekarang, dalam kurun waktu lima bulan terakhir dia mengaku sudah menjajaki empat perempuan yang didamba menjadi pacar dan calon istri. Sayangnya tidak ada yang cocok, akunya.

Saya tidak mengoreknya terlampau jauh,   apalagi sifat saya yang tidak mau ikut canpur urusan orang kecuali dia sendiri yang membaginya. Saya hanya menanggapinya dengan kelakaran, "kamu standart-nya terlampau tinggi mas. Aku gak berani ngenalin calon." Pada detik ini, asli saya hanya berkelakar. Selain sebenarnya saya tidak berani nyomblangin orang sih. Apa ya, semacam takut kalau mereka ada masalah, saya takut itu karena saya yang sudah mengenalkan mereka berdua.

Sembari melanjutkan pekerjaan saya di depan komputer, pikiran saya malah kemana-mana. Amat jauh dari layar komputer di hadapan saya. Saya teringat kisah Aku di novel Putut EA Cinta Tak Tepat Waktu yang bukunya baru selesai saya baca kemarin. Ceritanya tentang cinta yang tak tepat waktu dengan analogi​ hal remeh temeh yang tak datang tepat waktu, meski padahal sudah di persiapkan rapi sebelumnya.

Saya sendiri tak bisa membandingkan sejauh mana karakter si tokoh dan karakter orang yang sedang​ saya biacarakan ini (!)​. Tapi, barangkali si ​Rekan saya ini​ merasai bernasib serupa, kurang mujur dalam peruntungan soal jodoh. 

Saya tak hendak beropini macam-macam penyebab seseorang masih single sampai sekarang. Karena pada dasarnya memang urusan jodoh, urusan rezeki sudah diatur takarannya yang konon tercatat di kitab bahkan sebelum bumi alam semesta raya ini ada. Termasuk apakah menjadi single adalah sebuah pilihan.
​​
Kata-kata anak jaman sekarang, "mungkin jodohmu sedang sibuk berposes memantaskan diri untukmu nanti, maka kau pun semestinya melakukan proses  yang sama. Memantaskan diri untuknya." Klise tapi benar adanya.

Mengutip Coelho, jika kita mengharap sesuatu dengan penuh keyakinan, maka alam raya akan bersatu padu membantu. Tapi kalau kita sudah berusaha dan penuh keyakinan, ternyata masih belum kesampaian barangkali, sebenarnya kita hanya butuh berserah. "Sabar, seleh, semeleh.," bahasa Jawanya.​
​ ​
​Ya barangkali hanya itu, yang bisa saya sampaikan ke dia. Bener kan, apalagi... Kalau menurut pengakuan dia sudah berusaha tapi tak kunjung datang jodohnya. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar