September 10, 2014
Welcome, home!
September 02, 2014
Mengupayakan Kebahagiaan
Pagi ini saya random membaca blog tulisan dari orang lain, yang tidak saya kenal, bahkan juga tidak terkenal. Saya membaca banyak kisah, mulai dari sepele kisah keseharian sampai hal indah di luar nalar. Satu hal yang saya temukan, yang menghubungkan cerita-cerita yang saya baca, bahwa kebahagiaan memang harus diciptakan.
Yang harus dimulai dengan membahagiakan diri sendiri. Dan urusan membahagiakan orang lain menjadi kebih mudah ketika tuntas membahagiakan diri sendiri.
Tidak perlu mendengar kata orang untuk berbahagia. Karena masing-masing orang memiliki ukuran yang berbeda dalam berbahagia. Seperti anak kecil yang akan bersuka luar biasa dengan hanya menerima permen coklat favoritnya.
Maka pagi ini saya bersyukur kembali. Berbahagia dengan keadaan saya sekarang. Lalu berusaha tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan pada orang -seperti.yang.saya.lakukan.dulu.pada.masmantan- dan bahwa kebahagiaan selalu bisa diupayakan.
Agustus 18, 2014
Merayakan Kebahagian
0.07
Agustus 07, 2014
A Sky Full of Star
Juli 26, 2014
Singgah
"seringkali, kita harus singgah di suatu tempat, di suatu keadaan lebih dulu untuk benar-benar sampai ke tujuan kita."
Juli 20, 2014
Monolog Penyesalan
Aku bukan Tuhan yang bisa memberimu berkali-kali kesempatan. Setelah bahkan kau dustai Dia, berkali-kali juga.
Aku adalah orang yang hanya menyesalkan, setelah kau lewatkan kesempatan-kesempatan. Meski bahkan kau jungjung tinggi kesetiaan dan kepercayaan.
Juli 02, 2014
Repetisi Kehilangan
Repetisi kehilangan. Sakit yang berulang.
Seperti biasanya, menemukan celotehanmu seperti disebar garam diatas luka. Lalu aku akan lebih bahagia ditelan kesepian. Tak mendengar hiruk pikuk di luaran, karena di sana aku akan menemukanmu. Menemukanmu penuh rasa sakit mendalam. Senyatanya itu menyakitkan bahkan dari seujung jari lukaku sendiri.
Tiga
Batas kesabaran kita masing-masing, ternyata di angka tiga.
Tiga yang bagiku menjadi penanda keseriusanmu dulu.
Tiga yang bagimu ternyata juga adalah batas keseriusanmu kini. Tak akan ada keempat kali bagimu.
Cerita yang sama kembali berulang. Kamu datang, aku masih gamang, kamu hilang.
Dan sekarang untuk kesekian kali kamu datang, aku tetap gamang, kemudian kamu minta ijin menghilang.
Juni 07, 2014
Bongkar Buket Mawar
Sampai kapan? Sampai layu dan mengering mungkin.
Luka
biar luka aku pendam saja.
Tak perlu juga tahu seberapa besar itu luka,
bahkan pada dunia saja aku malu mengakuinya.
Tak perlu kau gugat waktu,
Karena waktu yang justru sembuhkan lukaku.
April 29, 2014
Kamu datang?
Tak perlu mengingat atau menunaikan janjimu yang dulu, karena janji itu bersyarat waktu.
April 20, 2014
Tidak salah kan?
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya
Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera
......"
~ Peluk/Dewi Lestari
Maret 05, 2014
Dua
Satu tahun adalah waktu yang lama. Bagi siapapun. Pertumbuhan bayi begitu cepat dalam kurun waktu satu tahun. Satu tahun pun adalah waktu yang singkat. Bagi siapa saja yang amat menikmatinya. Begitu pun saya.
Sayangnya seringkali kebahagiaan seseorang tak bisa sempurna di semua lini hidupnya. Ada bagian lain dari kehidupan yang memaksa kita menyerah pada keadaan. Berdamai dengan rasa sakit, menerima rasa kecewa, berhenti berjuang lalu mengembalikannya pada semesta. Demi apa? Demi keseimbangan. Dan bukankah memang sudah begitu takarannya. Karena untuk memahami makna bahagia, kita harus menyecap juga rasa duka.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Maret 03, 2014
Lainnya
Februari 27, 2014
Beda (Hujan Jakarta)
Bahkan dalam mimpi sekalipun kamu tak pernah lagi ada. Tak pernah hadir. Seolah-olah alam bawah sadarku pun mulai menolakmu.
Jakarta masih sering hujan. Dan sepertinya hujan Jakarta mulai mampu menghapus jejak rinduku atas kita. Maka semoga kala musim hujan telah habis masanya, sakit hati tentang kita sudah terhapus selamanya.
Lalu... apa aku akan bisa menerimamu kembali, tunggu saja setelah hujan Jakarta benar-benar reda.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Februari 17, 2014
Perempuan Pecinta Senja
Meski ia pernah bercerita ia begitu mengagumi senja, mencintainya sepenuh hati dengan penerimaan atas konsekuensi senja : malam.
Sayangnya, malam terlalu kejam. Perempuan itu tak cukup tangguh untuk berdiri di tengah malam, apalagi berjalan di tengah pekatnya malam. Senja membiarkan ia berkelana di sepanjang malam sendirian, sampai untuk bertemu senja keesokan hari.
Perempuan itu berusaha tegar, tertawa-tawa seolah tak takut malam. Berusaha menunjukkan dunia bahwa ia perkasa, yang akan mampu menaklukan malam. Sayangnya ia tetap perempuan. Yang kadang butuh dituntun di tengah malam. Yang seringkali butuh ditunjukkan jalan!
Dan senja tetaplah menjadi senja. Indah dan cantik untuk dikagumi, sayang terlalu sebentar untuk bisa dinikmati.
Februari 05, 2014
Takdir Waktu
Sore itu tak banyak percakapan seperti hari-hari biasanya ketika kami bertemu. Dua jiwa saling menyayangi yang terpisah ruang. Kali ini Mentari banyak diam.
"Ketidakadilan waktu, Pa?" Tanya Mentari lagi lirih, nyaris bergumam.
Gadisku ternyata makin dewasa. Ia tumbuh secerdas Ibunya.
"Sama halnya ketika kita menunggu-nunggu sesuatu, waktu akan berjalan amat lama. Sementara sebaliknya ketika kita menikmati sesuatu waktu bergerak bahkan seolah seperti kedipan mata." Tambah Mentari lagi, sembari merapikan tas sekolahnya yang sebenarnya sudah rapi dari semula.
"Begitulah hakikat waktu, sayang. Takdir waktu memang relatif. Tak pernah pasti. Tergantung tafsir orang." Kataku. Kesedihanmu menusuk hati ayahmu ini, Nak.
"Berdamailah dengan waktu, Mentari." Kuelus kepala Mentari.
Mentari menarik napas lalu menghembuskan napasnya panjang. Perlahan mendekap tas sekolahnya dan berusaha membuat senyum yang paling indah yang dia miliki.
"Yasudah kalau begitu, aku pulang dulu. Papa titip salam buat Mama enggak?"
Tak salah kamu keberi nama Mentari. Kamu selalu berhasil menghangatkan hati Papa.
Perlahan aku mengangguk lalu berkata dengan suara yang kubuat senormal mungkin. "Tentu. Juga buat Om Doni. Sampaikan maaf Papa tidak bisa datang ke perkawinan mereka besok."
Mentari memberikan senyumnya sekali lagi. Sebelum akhirnya menghambur memelukku.
"Berdamailah dengan waktu, sayang. Karena waktu juga yang akan menjadi penyembuh luka paling ampuh. Itu sudah hukum waktu." Bisikku.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Surat Nomer Tiga di Februari
Dulu, dulu sekali aku suka sekali menyaksikan iklan cat dinding. Ttg animasi sebuah rumah. Aku membayangkan bahwa suatu ketika kamu -andai saja bisa- bercerita dan dibukukan ketebalannya mungkin melibih ketebalan KBBI.
Dua puluh tahun. Benar. Sudah duapuluh tahun, kamu menemani kami. Menjadi saksi apapun yang terjadi di keluarga kami. Bahkan semenjak kamu belum terlihat selayaknya rumah. Kamu sendiri ingat pasti, bagaimana susahnya bapak ibuk ngangkatin papan sebagai pintu sementara. Berlantai tanah. Prihatin. Benar-benar belum berupa rumah, kamu kala itu.
Dulu, aku selalu membayangkan tidak lama lagi akan punya rumah utuh tiap kali bapak bongkar kamu sana-sini. Meski kenyataannya 20 tahun kemudian masih saja belum jadi! Masi saja harus bongkar sana bongkar sini. Entah kapan kamu bisa jadi selayaknya rumah orang-orang di luar sana. Utuh, sudah benar-benar jadi, dan bagus. Mengingat keinginan bapak yang bermacam-macam, aku bahkan tidak yakin kamu akan utuh seperti di bayangan masa kecilku semula.
Tetapi lambat laun, kian tahun, kian pula aku paham. Bahwa sejatinya rumah, kamu, bukan semata soal bentuk fisik. Nyatanya seburuk apapun kamu, sebelum jadi apapun kamu, kamu telah menjadi kebanggaan kami.
Menjadi saksi kebahagian dan duka kami. Kamu mendengar teriakan, makian, tangisan, tawa, bahkan bisikan yang sejatinya hanya kami sampaikan kepada Tuhan. Lalu andaikata ada orang menanyakan rahasia kami, aku yakin kamulah yang paling tahu!
Yang pasti, kamulah alasan kami pulang. Selalu menjadi tujuan kami pulang.
Salam,
Alina -gadis pertama Bapak-
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Februari 03, 2014
Surat Nomor Dua di Februari
Ibu dimanapun pasti ingin selalu membahagiakan anak-anaknya. Tak ingin membuat anaknya berkekurangan. Tak ingin membuat keluarganynya berduka. Bahkan ingin selalu memberikan kemudahan bagi anak-anaknya. Bagaimanapun, takdir kasih ibu memang sepanjang jalan.
Saya seorang anak, dan saya paham pasti pengorbanan seorang Ibu demi kejayaan anak-anaknya.
Tapi bukankah tetap tak boleh ada pemakluman saat melakukan kecurangan, demi anak sekalipun??
Apakabar Ibu? Apa Ibu sehat? Sudah bersyukurkah Ibu hari ini? Terkadang, karena lupa bersyukur membuat hidup kita terasa berat.
Apa anak-anak Ibu masih sering berkunjung? Semoga kasih mereka tak pernah putus sebagaimana kasihmu bagi mereka.
Ibu juga tentu rindu cucu ya, Bu? Seperti nenek saya, yang selalu menanyakan saya tiap bertemu oang tua saya. Saya yakin Ibu pasti juga begitu. Rindu pelukan cucu-cucunya, rindu digandeng cucu-cucunya. Katanya kalau sesorang sudah punya cucu segala hal akan dilakukan demi cucunya, bukan lagi demi anaknya. Nah, demi cucu-cucumu Bu. Menyerahlah. Berhentilah.
Bagaimanapun semua ada masanya, bisa jadi masa kuasamu memang sudah sampai di sini. Tak perlu ngotot. Tak perlu kekeuh. Biarkan cucu-cucumu besar dengan kuasa mereka sendiri. Biarkan mereka dewasa dengan cara mereka. Tak perlu ikut campur lagi, Bu. Istirahatlah, Bu.
Salam
Alina, seorang anak.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Februari 02, 2014
Menikmatimu
Dan kau lihat pelangi
Gadis itu menatap ke jendela. saat sederhana itu telah mengekalkan kecantikannya di otakku.
Seperti kau di sini hadirkan sriwedari
Dalam suka duniawi
Dan kita berpijak lalu
Kau merasakan yang sama sepertiku
Ia lemparkan senyumnya, lalu sedikit kerling manjanya. merajuk.
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Ia lalu bercerita tentang apa yang terjadi padanya pagi tadi. sepatunya yang kotor kena lumpur sisa hujan semalam sampai hasil diskusi dengan sahabatnya tentang masa depan karirnya.
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Ia merajuk lagi saat ia merasa tak diperhatikan. memukul pelan lenganku sambil mengomel.
"katamu tak suka dikomentari. katamu hanya ingin didengarkan?" kataku memperhatikan bulu-bulu matanya.
Gadis itu merengut. Bibirnya digerakkan ke kiri ke kanan tanda gemas.
Lihat fajar merona memandangi kita
Seakan tahu cerita
Tentang semua rasa yang ingin kita bawa
Tanpa ada rahasia
Sore ini, gadis itu begitu berbinar ketika menyicip es krim favoritnya. berkali-kali ia bilang es krim adalah penetralisir perasannya. ia tertawa berkali-kali. tawa yang mungkin untuk merayakan sesuatu.
"apa yang terjadi?" tanyaku.
"tidak ada. aku hanya ingin tertawa saja." katanya.
ia tertawa lagi. tawanya kembali menggelitik hatiku.
Dan kita melangkah untuk
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi
"ayo jalan-jalan?"
aku terdiam. untuk pertama kalinya dan akhirnya.
"jadi?" tanyanya.
aku mengangguk. dalam hati bersorak.
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata
Irama hati kita bernada, merayu tanpa bicara
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu
(Setapak Sriwedari_Maliq and D essentials)
