Tampilkan postingan dengan label pernik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernik. Tampilkan semua postingan

Maret 03, 2014

Lainnya

"...pastikan dia punya apa-apa yg kamu cari, dan tidak punya apa-apa yang menjadikan yang sebelumnya salah." Kata seorang sahabat.


Februari 02, 2014

Surat Cinta Nomer Pertama di Februari

Kepada Alina di 10 Tahun Mendatang

Kepada Alina yang sudah jadi ibu...
Selamat siang Alina, bagaimana kabarmu?
Apa kau bahagia hari ini? Sudah berapa kali kau elus rambut anakmu hari ini? :)
Oiya, apakah ia bermata bulat seperti matamu? Atau berpipi gembil seperti pipimu? Eh sudah berapa anakmua?

Kepada Alina yang sudah jadi istri...
Masak apa hari ini Alina? Apakah Suamimu makan dengan lahap. Apa hari ini ia sudah mengecup keningmu. Nah yang lebih penting sih, siapa dia Alina? Siapa dia yang dengan berani datang seorang diri menemui bapakmu lalu memintamu menjadi teman hidup, berbagi bahagia dan nestapa bersamanya. Ah siapapun dia, semoga ia mampu membimbingmu! Saling menjadi "rumah" bagi satu sama lain.

Kepada Alina yang sudah jadi menantu...
Bapak Ibu apakabar Alina? Sudahkah hari ini berbincang dengan mereka. Lalu adekmu? Sudah berapa anaknya?
Lalu apakabar mertuamu? Semoga kalian bisa kompak menjadi satu keluarga ya. hahaha

Nah Alina, kudoakan semoga kau berbahagia selalu. Kalaupun ketika kau baca ini kau sedang bersusah hati, bersabarlah. Kesedihan menyeimbangkan kehidupanmu. Bersabarlah bahwa semesta tidak menutup mata atas kesedihanmu!

Pesanku Alina, bersyukurlah! Sesungguhnya itu kunci kebahagiaan hidupmu.


Salam,
Alina Muda.



Januari 22, 2014

Bagaimana Sukab?

Yang masih aku ingin tahu, setelah mendapatkan balasan kejam dari Alina apakah Sukab masih cinta?

Desember 12, 2013

Percakapan

"Kamu masih suka nulis, mbak?" Tanya Bapak di sore kemarin ketika saya telepon.
Saya hanya tertawa, nyengir.
"Masih sih, tapi jarang."

tapi impian saya masih sama kok, Pak. Jadi penulis.


November 20, 2013

Bahagia? Biasa saja.

Sudah delapan bulan saya menjadi bagian dari sebuah show televisi. grudak-gruduk (seperti sifat asli saya sudah pasti), cemas, tegang, bahkan sampai lupa pipis. kemudian di antara konsentrasi memegang prompter, pikiran saya meloncat-loncat sembari menyaksikan tayangan pada hari itu. tentang saya, tentang saya, dan tentang saya sendiri.

dan siang tadi, disela-sela combreak yang hanya tiga menit itu, tiba-tiba muncul pertanyaan apakah saya akan berbahagia atas apa yang akan saya dapatkan berdasarkan apa yang saya idam-idamkan saat ini. semisal apakah saya akan bahagia bila menikah dengan pacar saya yang sangat menyayangi saya itu, atau apakah saya akan bahagia bila berhasil menjadi produser (ups ;p), atau apapun yang saya dapatkan nanti atas apa yang saya inginkan sekarang.

biasanya sih, rasanya biasa saja. ibarat kita mendaki gunung (kalau kata anak-anak pecinta alam) jika sudah sampai puncak rasanya bahagia sih, tapi ya biasa aja. atau ketika kita mengingnkan suatu hal (saya!), setelah saya dapat ya sudah biasa aja. bahagaianya ya begitu saja.

bisa jadi perasaan luarbiasa itu ketika menjalani prosesnya.

atau ketika menjalani detik demi detik step-stepnya.

ya, bisa jadi begitu sih.

jadi... ya jadi... mungkin itulah penyebabnya kenapa manusia terus berkeinginan, tidak pernah puas, terus mengidamkan sesuatu. setelah dapat ini, mau itu, lalu ingin yang demikian, kemudian mendamba yang begitu, de es be de es be. bisa jadi begitu...


Oktober 09, 2013

Karma

Kalo kata dia, namanya karma. Ketika ia diantara dua perempuan yang tak bisa dilepaskan dua-duanya, dan pada akhirnya tak pernah didapatkan pula bahkan satu diantaranya. Itu dulu, sesuatu yang ia janjikan tak akan pernah ada kedua kalinya, janji pada saya dan yang penting janji pada dirinya sendiri.

Kalau menurut saya itu balasan. Yang memang sudah sewajarnya.

Saya selalu meyakini bahwa hidup itu hanya lingkaran causalita. jadi begini karena begitu, jadi begitu karena begini, dan seterusnya. Apa yang ada sekarang adalah yang kita tuai dari benih yang sudah ditanam. Maka sudah sewajarnya, ketika dulu ia mengobarkan bara pada dua perempuan di saat yang sama terbakarlah dia, hanguslah semuanya.

-------------
Itu hanya pengantar sebuah cerita lain tentang relasi dua manusia berjenis kelamin berbeda.
Seorang lelaki merana karena dicampakkan kekasihnya dengan berbagai alasannya. Tidak ada yang salah. Mereka hanya mengikuti kehendak alam. Semesta menghendaki mereka sempat bersama meski (tanpa sengaja) mengorbankan hati lain yang bisa jadi tak tahu apa-apa.

Maka jika kini akhirnya mereka tak lagi bersama, tentu juga adalah cara semesta. Apakah dia pantas mengumpat? memaki dunia? Tentu saja. Tapi mungkin ia tak pernah mengira bahwa sepotong hati lain yang telah dikorbankannya bisa jadi pernah melakukan hal yang sama, marah pada dunia. Mungkin layaknya Bruno Mars yang sampai menyumpahi kekasihnya : tell the devil I said 'hey' when you get back to where you're from

Lalu apakah cerita ini akan berakhir layaknya novel-novel picisan lainnya, dimana sang putri akan berbahagia selamanya dengan pangeran pilihannya? Tentu rahasia semesta. Tapi sekali lagi bukankah hidup itu hanya rentetan hubungan kausalita?



September 21, 2013

Kertas

Adalah perjalan yang panjang dari batang pohon hingga ia bisa sampai ketangan manusia, menjadi kertas, yang bebas untuk dicorat-coret. Lalu usai, dibuang begitu saja. Padahal konon (yang saya yakini juga sih) penggunaan selembar kertas mengancam kehidupan bumi dan kesejahteraan anak cucu kita.

Dulu dulu saya masih acuh. Tp sekarang semenjak saya bekerja rasa-rasanya melihat kertas berakhir begitu saja, sekali dua kali pakai, rasanya miris. Bersalah dan berdosa!



September 05, 2013

Sukab pacarnya Alina

Saya kenal Sukab belum lama, meski ia sudah terkenal sejak 1993. Tadinya saya abai begitu saja, sampai di suatu ketika saya terkejut mendengar nama saya disebut di awal pembuka sebuah pementasan teater.

"Alina..."

Saya ingat sekali, saya langsung deg-deg-ser disapa seperti itu.

oleh Sukab.

Sukab yang itu adalah kawan dari jurusan lain di kampus saya.

Pementasan teater itu berupa monolog dengan naskah berjudul "Sepotong senja untuk pacarku". saya baca selebarannya. Dan ternyata jeng jeng jeng... pementasan itu berangkat dari naskah cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul sama. Sebagai anak seorang guru bahasa Indonesia (halah), saya cukup tau siapa Seno, tapi sejujurnya saya tak pernah menikmati karya-karyanya. Apalagi naskah tentang si Alina ini.

pada detik setelah pementasan itu saya langsung google mencari tentang si Sukab ini. dan ow ow ow.... saya yang kebetulan bernama sama langsung bangga membaca cerpennya. seolah-olah, cerpen dalam kemasan surat itu memang ditujukan pada saya. apalagi pada bagian si Sukab memotong senja lalu dimasukkan ke sakunya, sampai dikejar-kejar polisi segala, sampai ahh... rasanya-rasanya senja iu memang untuk saya.

Lucunya, surat si Sukab ini ternyata di balas oleh Alina, setelah beberapa tahun kemudian. Alina-nya si Sukab lho. bukan saya, hehe

Semalam saya tanpa sengaja menemukan akun twitter si Sukab. antusiaslah sudah pasti. apalagi bio-nya nyebut Alina-alinanya. haha. saya jadi deg-deg-ser lagi. saya telat yah taunya? ya biar saja... yang penting nama saya ada.




"..... Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
......"
itu bagian favorit saya.



September 03, 2013

#bahagiaitusederhana

seorang sahabat bercerita, diantara waktu yang seharusnya bahagia ia justu merasa sebaliknya. Ia berprestasi, sayangnya ia merasa tak bahagia. ia punya kesempatan luas, sayangnya ia justru merasa tak bisa berbuat apa-apa.

manusia konon makhluk yang tak terbatas kepuasannya. tak pernah merasa cukup, selalu meminta lebih, mencari lagi dan mencari lagi. Tidak diberi protes, diberi ini minta yang itu, diberi yang itu ngiri yang sana, lalu seterusnya-seterusnya dan seterusnya.

kalo kata bapak saya dulu, dulu sekali saat saya masih kecil saat saya hanya bisa iri melihat teman saya punya sepeda baru, atau kawan saya yang motor orang tuanya keluaran terbaru sementara bapak saya hanya punya motor antik tua dan cuma satu, "lihat ke bawah. berkaca pada yang dibawah." kita pasti akan merasa lebih beruntung.

tiap orang memiliki takaran kebahagiaan yang berbeda. mungkin itulah Tuhan menyuruh manusia bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.


dan pada akhirnya, saya mungkin harus mengikuti mainstream pake #bahagiaitusederhana
=)

Agustus 30, 2013

Duapuluh

Dek, aku selalu bersyukur bahwa kamulah yang ditentukan Tuhan lahir dari rahim ibuk setelah aku. meski kadang berharap juga gita gutawa bisa menjadi adekku.
Aku selalu bersyukur atas 20 tahun kehadiranmu menjadi pernik warna-warni bagi kehidupan kami, aku ibuk dan bapak.

Ah, betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya dulu aku masih kuat menggendongmu keliling dandangan. Badanmu agak demam sore itu.
Aku pun masih bisa memelukmu rapat ketika petir tiba-tiba menggelegar, sekarang bahkan baju-bajumu terlalu besar untuk kupinjam.

Kamu memang tak harus percaya bahwa tak pernah sekalipun berpikir aku ingin punya adek laki-laki. Tak pernah terpikirkan punya adek selain kamu, meski kadang kamu mengesalkan. Tapi kukira itu wajar, karena manusia memang tak sempurna. Sebagaimana kamu kesal setengah mati menghadapi kelakuanku yang sewenang-wenang dan jahat itu. Hahaha

Toh, kita tetap saling menerima. Sering seia memandang dan menghadapi persoalan di depan kita. Selalu ada maaf terulur bahkan sebelum kata maaf itu terlontar.

Dua puluh tahun dek. Maaf jika tak pernah ada kado di hari ke 29 bulan agustus selama 20 tahun itu. Tak pernah ada kue, tak ada surprise, atau tiup lilin. Di keluarga kita itu memang tak budaya. Bukan apa-apa, tapi kalau saja bisa pasti bapak ibuk akan mengutamakannya. Tapi bukankah selalu ada yang lebih perlu daripada sekedar ingin.

Yang pasti akan selalu ada doa teruntui di usai solat kami, atasmu.


Selamat ulang tahun sayang,
Jangan takut
Temukan dan nikmatilah duniamu!


Jakarta, 30 Agustus 2013


Agustus 12, 2013

Lelaki yang Cintanya Tak Terbatas


Dia begitu sederhana. sesederhana ia menjalani kehidupan, sesederhana pula ia melihat dan membagi cinta. ia tak pernah mengumbar kata cinta. cintanya disampaikan berupa sms singkat di kala pagi, atau pelukan singkat sebelum ia melepas keberangkatan para gadisnya.

Lelaki ini adalah orang pertama sekaligus terakhir yang memastikan para gadisnya berbahagia, merasa hangat di kala dingin, merasa dicintai kala sendiri, merasa bahagia saat kurang. Ia tak bisa memberikan kemewahan bagi para gadisnya, tapi bekeras bahwa gadisnya tak boleh (merasa) berkekurangan. diajarkannya rasa syukur sejak para gadisnya mulai lahir kedunia.

Ia merasa para gadisnya bukan miliknya. para gadisnya adalah milik semesta. ia membiarkan para gadisnya berbuat sesuka mereka, membuat mereka melihat warna-warni dunia, merasakan manis getir semesta. membebaskan mereka berkarya, menjadi bagian dunia. maka jika tahun-tahun sebelumnya ia bisa memeluk kedua gadisnya saat suara takbir menggema di seluruh penjuru kota, tahun ini ia ia harus rela hanya bisa mencium pipi satu gadisnya saja. 

Dan 11 Agustus lalu, pada saat seharusnya ia merayakan hari jadinya, ia pun rela berada jauh ribuan kilometer dari gadisnya juga harus rela melepas satu gadisnya demi meretas mimpi mereka.


 













happy birthday my beloved dad
stay healthy. may Allah blessed you. Always.
aamin

Jakarta, 12 Agustus '13

Juli 16, 2013

Oase

hijau, biru, merah, kuning, biru, putih, ada begitu banyak yang hendak dibagi. sampai-sampai aku sendiri lupa, tak tahu lagi apa yang sebenarnya hendak kubagi.

aku rindu menulis. aku rindu mimpi menjadi penulis.

Mei 30, 2013

Jakarta Jilid Berikutnya


Fix. saya kebagian libur hari jumat dan sabtu. gimana rasanya libur saat yang lain belum libur? biasa aja sih. hahaha
yang pasti, saya tak merasakan "i hate Monday" seperti pegawai pada umumnya yang memulai aktifitas banting tulang di hari Senin. saya justru "i hate Sunday"

Btw, sudah tiga bulan lebih saya di ibukota, dan belum pernah pulang sama sekali. apa rasanya? luar biasa! saya tak pernah merasa rindu rumah serindu ini sekaligus nyaman di kota orang senyaman ini. saya ingat sekali, bagaimana dulu waktu saya jadi perantau di Solo pertama kali. butuh waktu hamnpir berbulan-bulan, bahkan mungkin tahunan sampai saya benar-benar betah di Solo. rasa ingin pulang melebihi apapun.