Mei 05, 2016
Amanah
Desember 29, 2015
Refleksi Kesepian
Desember 11, 2015
Penulis Kambuhan
Juni 11, 2015
Pulang Kantor
Datang siang, pulang tentu lebih larut dari pegawai kantor pada umumnya. Jam 10 bisa jadi sampai jam 1 malam. Atau lebih. Mungkin beberapa orang menganggapnya keuntungan. Bisa terhindar dari macet yang senantiasa membuat orang hampir kesetanan.
Semalam, saya dan kekasih saya sempat berbincang dengan rekan beda devisi. Beliau supervisor di salah satu bagian, cantik, dan masih terhitung pengantin baru. Jam setengah 9 malam selepas saya balik dari makan malam. Dia berjalan kembali masuk gedung, setelah katanya menunggu taksi di luar yang tak kunjung dapat.
"Jam segini taksi susah mba..." Yang seperti ini, biasanya percakapan basa-basi.
"Iya." sahutnya.
"Aku biasa pulang diatas jam 12 sih, taksi di luar banyak." Sahut kekasih saya.
"Nanti kalau udah menikah, pasti jam 9 udah bawannya pengen pulang." Sahutnya.
Kami lalu tertawa bersama.
Dalam hati, iya juga sih.
Beberapa orang, mungkin menikmati berangkat ke kantor siang dengan asumsi "udah engga terlalu macet". Pas pulang lebih dari jam 10 malam, "jalanan udah sepi kalo jam segitu." Tebak-tebak sih, mungkin yang demikian ini tidak (belum) punya prioritas lain selain di kantor. Prioritasnya karir. Tapi berdasar riset amatir, hasil dari mengamati beberapa orang di kantor, yang demikian ini kebanyakan single, belum berkeluarga. Ini belum sahih lho. Cuma asumsi. Eh tapi yang single, pulang kerja tepat waktu juga banyak. Banyak alasanlah.
Hidup kan memang soal pilihan, dan soal menentukan prioritas.
Mei 21, 2015
Cara Tuhan
Harus tampil sempurna
Ingin kuteriakkannn... Rocker juga manusia...
Saya bukan rocker, saya orang biasa.
April 20, 2015
Cincin
Januari 03, 2015
Lelaki Baik
Desember 25, 2014
Kado
Kado saya sudah datang! Kado yang dibeli dengan uang sendiri untuk diri sendiri. Kadangkala kita abai pada kita sendiri, lupa memberi reward padahal kita sering menyuruh diri sendiri bekerja keras! bukan bekerja keras dalam arti fisik, tapi... bukankah senantiasa berusaha positif di setiap kondisi padahal serangan energi negatif sedang kuat-kuatnya adalah hal tak mudah?
Nah, sekarang saya ingin memberi penghargaan pada diri saya untuk itu.
Apa kadonya? Laptop baru! Setelah hampir dua tahun nulis blog (enggak rajin-rajin nulis juga sih) pakai smartphone yang nyatanya tak lebih nyaman dari komputer.
Sederhana. Tapi bukankah bahagia itu yang demikian kan...
*gambar dari sini
Desember 05, 2014
Mau atau Tidak Mau
November 14, 2014
Minor Bermasyarakat
Bila di masa sekolah kita diajarkan teori bermasyarakat, kini ketika dewasa seringkali kita dihadapkan untuk praktek bermasyarakat.
Minggu lalu, bapak kos saya meninggal. Karena penyakitnya juga karena usia. Berbendera kuning di depan pagar, malam itu kos mendadak menjadi ramai orang-orang. Saudara-saudara si empunya rumah.
Saya bukan tak pernah menghadiri pemakaman. Beberapa kali menjadi tuan rumah di upacara pemakaman. Tapi, ketika kejadianya bapak kos meninggal ini saya justru kebingungan, saya harus bagaimana? Datang ke upacara pemakaman pasti. Lalu apa? Bawa beras takziyah seperti layaknya di kampung saya atau bagaimana?
Ternyata hal seperti ini sering tak terpikirkan. Bahwa ternyata, ada hal-hal sepele yang menunjukkan sekalipun saya hidup sendiri, tetaplah saya bagian dari masyarakat. Meskipun minor. Saya lalu ingat, betapa hampir bahkan tak pernah berinteraksinya saya dengan tetangga kos. Sibuk dengan dunia sendiri, sampai kadang-kadang tak sadar apa yang sudah terjadi pada kehidupan di sekeliling kita.
Ah, siapa tak rindu tinggal di kampung...
Oktober 24, 2014
Lupa Luka Lupa
Oktober 13, 2014
Flashback
Beberapa waktu yang lalu, pasca berakhirnya relasi dengan pria yang saya gadang jadi bapaknya anak-anak saya nanti, saya sempat bimbang mau diapakan blog ini. Mengingat banyak sekali tulisan yang isinya tentang dia, dia, dia, lalu dia lagi.
Kembali membaca beberapa postingan pastilah membuat jiwa raga pikiran ini tercabik-cabik. Tapi toh kemudian saya masih terus menulis, semacam selfhealing mungkin. Dan taraaa .... saya putuskan tidak menutup blog ini. Juga tidak membiarkannya berdebu bersarang laba-laba. Atau menghapus postingan yang terkait dengan pria yang pernah membuat saya bahagia itu. Bahkan saya bertekad akan makin sering menulis, yang meskipun wacana seringnya tetap jadi wacana sih.
Saya ingin terus menulis di sini, terus bercerita. Tentang apa saja. Walaupun kebanyakan soal perasaan saja :p. Hanya satu yang tercetus dipikiran saya, kelak saya akan punya anak. Rasa-rasanya, saya ingin meninggalkan jejak agar anak saya di kemudian puluhan tahun mendatang tahu betapa melankolisnya mamanya. Betapa menye-menyenya mamanya kala jatuh cinta, pun dengan patah hati. Karena siapalah saya. Tak akan ada yang tertarik menuliskan kisah hidup saya. Jadi, saya rasa satu-satunya cara ya hanya dengan menulis di sini dan terus menulis di sini. Mudah-mudahan, Yang Di Atas memberi banyak kesempatan pada saya dan anak bahkan cucu saya untuk membaca tulisan ini kembali bersama-sama.
Oktober 11, 2014
Perahu
Aku masih bermimpi memiliki perahu. Kini aku kembali menggambar rancangan. Silakan kau simpan, karena aku percaya gambar ini akan aman. Silakan kau simpan, karena jika suatu saat perahu itu sudah selesai dibuat, kuserahkan padamu dan silhkan kau pimpin pelayaran.
September 10, 2014
Welcome, home!
Agustus 07, 2014
A Sky Full of Star
Juni 07, 2014
Luka
biar luka aku pendam saja.
Tak perlu juga tahu seberapa besar itu luka,
bahkan pada dunia saja aku malu mengakuinya.
Tak perlu kau gugat waktu,
Karena waktu yang justru sembuhkan lukaku.
Desember 30, 2013
A Quarter Life Reminder
31 desember hanya mengingatkan saya bahwa keesokan harinya, di bulan dan tahun yang baru, sudah semakin dekat ke hari lahir saya. Dan tahun depan akan seperempat abad usia saya.
Apa yang istimewa? Tidak ada.
Hanya saja, dulu... dulu sekali... saya pernah berangan-angan bahwa di usia itu saya sudah berkeluarga, punya anak bersama kekasih saya. Ternyata memang masih angan-angan.
Sekarang saya sudah meletakkan keinginan itu, mengembalikan kepada semesta. Menyerahkan kepada Pemilik Alam.
~ Sejatinya Yang Di Atas senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Agustus 19, 2013
Pulang
Mei 30, 2013
Jakarta Jilid Berikutnya
Fix. saya kebagian libur hari jumat dan sabtu. gimana rasanya libur saat yang lain belum libur? biasa aja sih. hahaha
yang pasti, saya tak merasakan "i hate Monday" seperti pegawai pada umumnya yang memulai aktifitas banting tulang di hari Senin. saya justru "i hate Sunday"
Btw, sudah tiga bulan lebih saya di ibukota, dan belum pernah pulang sama sekali. apa rasanya? luar biasa! saya tak pernah merasa rindu rumah serindu ini sekaligus nyaman di kota orang senyaman ini. saya ingat sekali, bagaimana dulu waktu saya jadi perantau di Solo pertama kali. butuh waktu hamnpir berbulan-bulan, bahkan mungkin tahunan sampai saya benar-benar betah di Solo. rasa ingin pulang melebihi apapun.


