Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan

Mei 05, 2016

Amanah

And the story begin...

"Jadi gimana rasanya?"

Akhirnya pertanyaan absurd ini saya terima juga, begitu masuk hari pertama pasca cuti menikah. Yang nanya absurd, dan jawabannya juga pasti absurd! Haha.

Nah, lalu saya menikah. Sama seperti orang tua saya, kakak sepupu saya, sahabat saya, kawan lama saya, kawan baru, juga jutaan manusia di belahan dunia lainnya​ yang punya pasangan sah. Alhamdulillah.

Akhirnya juga saya bisa bercerita di sini. Yang saya harap-harapakan dari lama dan kesampaian itu semacam... "wow ini beneran enggak ya?" Batin saya tiap hari bangun dan nemu ada laki bobok mendengkur dengan damainya di sebelah saya. Haha.

Desember 29, 2015

Refleksi Kesepian

Pernahkah kamu berpikir tentang kesepian? tentang kesendirian?
Kamu berfikir bahwa mungkin kamu sekarang baik-baik saja kamu sendirian atau kesepian (yang kadang-kadang datang), karena kamu punya banyak teman, kamu punya banyak keluarga, yang membuatmu hidupmu sibuk, ramai, banyak pikiran (hahah!)

Sekalipun kamu punya pasangan sekarang (yang membuatmu tentu tak kesepian), pernahkah berfikir bahwa kelak ketika umurmu sudah menua, andai kamu ditinggal pasanganmu duluan ke kehidupan yang lain, kamu akan bertahan dengan siapa? Dengan anak-anakmu kah? atau Ibumu? Saudaramu?

Saya bayanginnya aja kok ngeri-ngeri sedep ya. hahaha. Sama siapa ya saya nanti...

Saya sih kepikiran pulang ke rumah ibu atau bapak, kalau masih ada. Kalau sudah tak ada? haha! kemana ya...

Ke adek saya (mungkin). Tapi dia juga sudah tua, dan sudah pasti dia sudah punya rencana sendiri. Haha!


Ini ngelantur. Tapi patut direncanakan. Dan direnungkan. Belum ada kan asuransi yang menjamin ke-sendirian/kesepian)-an kita sampai hari tua (hahah!). 

Desember 11, 2015

Penulis Kambuhan

Ada kalanya dulu, bertahun-tahun silam, di beberapa malam saya menuturkan sebuah cerita -yang tentunya saya karang- pada adek saya sebelum tidur. Kebanyakan cerita dari buku pelajaran bahasa indonesia yang lalu saya kembang-kembangkan. Barangkali saya harus menkonfirmasi kepada dia apa masih ingat atau justru sebaliknya. Mungkin juga dia mau mendengar karena terpaksa! Haha!

Lalu dikemudian hari, saya gemar menulis cerita. Kebanyakan tentang mengembangkan (istilahnya sekarang reintrepretasi! :D ) dari sinetron yg saya tonton (what the f! Yak saya penonton sinetron karena mengikuti kegemaran ibuk saya bahahahak). Cerita saya tulis di sebuah buku bekas buku ulangan yang sudah tak terpakai. Entahlah kemana buku-buku itu sekarang.

Saya juga penulis diary. Dari SD hingga SMA. Mulai dr buku biasa sampe yang bentuknya ada kuncinya. Dan saya yakin pasti si ibuklah pembaca setia-nya hahaha! Kemana mereka semua? Entahlah. Kala itu saya bukan tipe anak extrovert (sekarang?!) yang mau mempublikasikan perasaannya. Jadi buku diary, habis kemudian dibuang.

Pernah menulis cerpen lalu menang di sebuah kompetisi. Beberapa kali menulis cerpen dikirim ke media, sayang tak lolos. Masa kuliah saya begitu aktif menulis lagi. Menulis tugas kuliah! Haha! Mahasiswa jurnalistik wajib menulis berita lho tiap pekan.

Impian saya menjadi penulis fiksi terpupuk. Lalu terlupakan diantara denyutan kesibukan pekerjaan hingga kini. Sampai beberapa jam yang lalu, muncul pesan singkat dari Bapak "Bapak minta dibuatin cerpen ya, buat nyusun buku pendamping pelajaran bahasa indonesia."

Pesan pemantik. Membuat saya merenung lalu menulis hal panjang ini tadi. Menjadi penulis fiksi masih impian. Menemukan nama saya berjejer di rak toko buku senusantara masih harapan. Mudah-mudahan!


*lanjutin nulis cerita-cerita yang baru openingnya aja :D :D :D*

Juni 11, 2015

Pulang Kantor

Kebiasaan menyenangkan di kantor. Silakan untuk datang siang. Tak harus jam 9 duduk manis di kantor. Mungkin beberapa orang menyebutnya kondisi idaman. Yang jelas, mesin presensi tetap mencatat kehadiran individu minimal 8 jam.

Datang siang, pulang tentu lebih larut dari pegawai kantor pada umumnya. Jam 10 bisa jadi sampai jam 1 malam. Atau lebih. Mungkin beberapa orang menganggapnya keuntungan. Bisa terhindar dari macet yang senantiasa membuat orang hampir kesetanan.

Semalam, saya dan kekasih saya sempat berbincang dengan rekan beda devisi. Beliau supervisor di salah satu bagian, cantik, dan masih terhitung pengantin baru. Jam setengah 9 malam selepas saya balik dari makan malam. Dia berjalan kembali masuk gedung, setelah katanya menunggu taksi di luar yang tak kunjung dapat.

"Jam segini taksi susah mba..." Yang seperti ini, biasanya percakapan basa-basi.
"Iya." sahutnya.
"Aku biasa pulang diatas jam 12 sih, taksi di luar banyak." Sahut kekasih saya.
"Nanti kalau udah menikah, pasti jam 9 udah bawannya pengen pulang." Sahutnya.
Kami lalu tertawa bersama.

Dalam hati, iya juga sih.

Beberapa orang, mungkin menikmati berangkat ke kantor siang dengan asumsi "udah engga terlalu macet". Pas pulang lebih dari jam 10 malam, "jalanan udah sepi kalo jam segitu." Tebak-tebak sih, mungkin yang demikian ini tidak (belum) punya prioritas lain selain di kantor. Prioritasnya karir. Tapi berdasar riset amatir, hasil dari mengamati beberapa orang di kantor, yang demikian ini kebanyakan single, belum berkeluarga. Ini belum sahih lho. Cuma asumsi. Eh tapi yang single, pulang kerja tepat waktu juga banyak. Banyak alasanlah.

Hidup kan memang soal pilihan, dan soal menentukan prioritas.


Mei 21, 2015

Cara Tuhan

Kadang kurasa lelah,
Harus tampil sempurna
Ingin kuteriakkannn... Rocker juga manusia...
~

Saya bukan rocker, saya orang biasa.

Hari bertambah, usia berkurang. SD dekat kantor masih riuh polah teriak anak-anak meski sudah hampir kena gusur. Lahan parkir dekat kantor makin berkurang, menang oleh saudagar bangunan. Banyak pegawai baru datang, meski tak sedikit kawan seangkatan yang lulus duluan. Sementara saya, sembari menghitung waktu mencoba peruntungan dari situs penyedia lowongan. Barangkali, saya ada kesempatan menimba ilmu di tempat lain.

Kabarnya, amanah itu diberi. Dikasih oleh Tuhan. Sama halnya quote "Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan". Yang artinya, amanah yang kita pegang sekarang semata-mata sudah dihitung Tuhan bahwa kita sanggup. Dan menurut Tuhan itu yang terbaik buat kita, meski sering kali -saya- misuh-misuh juga kenapa saya diberi amanah sedemikian susah.

Lalu bahwa susah atau mudah sebenarnya hanya soal perspektif. Memandang satu hal dari sudut lain, supaya yang kelihatannya susah bisa jadi malah mudah. Coba berpikir out of the box supaya yang susah menjadi mudah. Barangkali ini justru PR besar selanjutnya, out of the box yang seperti apa??

Kosan pindah ke tempat yang lebih nyaman, buktinya alergi bersin-bersin saya berkurang bahkan nyaris hilang. Meski sempit kamarnya. Tiap malam terdengar ramai orang-orang kampung main badminton di lapangan depan kosan. Seperti malam sekarang. Pastilah Tuhan pun punya alasan, menunjuk saya tinggal di kamar kos ini. Barangkali akibatnya belum nampak, yang jelas saya jadi bisa pulang teratur, tak bisa larut, karena aturan kos yang ada jam malam.

Yah, begitulah memang Tuhan bekerja.

April 20, 2015

Cincin



​

Simbol. Tanda. Petanda. Semacam belajar semiotika. 
Tapi disana letak impian saya. 
Selamat datang cinta. Tak pernah lelah bibir ini berucap doa. Semoga! 


Januari 03, 2015

Lelaki Baik

Malam ini, ketika playlist mengalunkan soundtrack film favorit saya Hari untuk Amanda (So Right-nya Music for Sale), pikiran saya melayang-layang melupakan denyutan tipis rasa sakit yang mendera di pipi kanan. Karena sakit gigi.

Saya bersyukur. Jika di luar sana, ada cerita bahwa tak sedikit perempuan yang mendapat kawan dekat (pacar) tak baik, saya tidak demikiam. Di seperempat abad usia perhitungan manusia, saya telah mengenal dekat dua orang lelaki yang luar biasa baik. Bapak saya tak masuk hitungan.

Desember 25, 2014

Kado



Selamat merayakan Long Weekend di hari Natal yang dempeten dengan Sabtu Minggu!

Kado saya sudah datang! Kado yang dibeli dengan uang sendiri untuk diri sendiri. Kadangkala kita abai pada kita sendiri, lupa memberi reward padahal kita sering menyuruh diri sendiri bekerja keras! bukan bekerja keras dalam arti fisik, tapi... bukankah senantiasa berusaha positif di setiap kondisi padahal serangan energi negatif sedang kuat-kuatnya adalah hal tak mudah?

Nah, sekarang saya ingin memberi penghargaan pada diri saya untuk itu.

Apa kadonya? Laptop baru! Setelah hampir dua tahun nulis blog (enggak rajin-rajin nulis juga sih) pakai smartphone yang nyatanya tak lebih nyaman dari komputer.

Sederhana. Tapi bukankah bahagia itu yang demikian kan...


*gambar dari sini 

Desember 05, 2014

Mau atau Tidak Mau

Saya selalu percaya bahwa kebahagiaan itu kita ciptakan sendiri.

Tiap kali saya bangun tidur dengan kepala berat dan perut mual- setelah beberapa jam sebelumnya baru pulang kantor menjelang subuh-padahal di hari sebelumnya berangkat ke kantor sesuai jam normal biasa- saya mengingatkan diri sendiri bahwa ini adalah konsekuenai atas impian saya dulu.

Bekerja di industri televisi, pernah menjadi impian saya semenjak masih sekolah. Saya ingat dialog dengan kawan SMP namanya Adinda. Kami bercerita saling berbagi cita-cita, dan bahwa kelak saya ingin bekerja di TV (hanya berdasar argumen bahwa pekerja TV itu keren). Saya membuktikan sendiri, bahwa cita-cita sejatinya tak susah diraih asal yakin dan terus mengupayakan cita-cita itu. Pilihannya hanya mau atau tidak.

Betapa di kala SMA saya bersikukuh tidak mau masuk IPA karena yakin bahwa saya sudah bersikap atas cita-cita saya. Pada masanya jurusan IPA masih menjadi prioritas karena banyak pilihan ketika masuk universitas (entahlah dengan sekarang). Dan ketika akhirnya saya melunasi janji pada diri sendiri, puas memang. Bahwa saya bisa.

Kini menjadi besar di jalur pilihan saya adalah sesuatu yang barangkali tidak mustahil. Masih sama seperti dulu, tinggal mau atau tidak mau.

Tapi, mengulang kembali tulisan di paragraf dua tadi... Tiap kali saya bangun tidur dengan kepala berat dan perut mual- setelah beberapa jam sebelumnya pulang hampir subuh-padahal di hari sebelumnya berangkat ke kantor sesuai jam normal biasa- membuat saya makin paham frasa bahwa ada harga yang harus dibayar demi apapun. Dan barangkali malah membuat saya tak lagi optimis, bahwa saya cocok di jalur ini.

Yah, kebahagian memang kita yang atur sendiri bukan...

November 14, 2014

Minor Bermasyarakat

Bila di masa sekolah kita diajarkan teori bermasyarakat, kini ketika dewasa seringkali kita dihadapkan untuk praktek bermasyarakat.

Minggu lalu, bapak kos saya meninggal. Karena penyakitnya juga karena usia. Berbendera kuning di depan pagar, malam itu kos mendadak menjadi ramai orang-orang. Saudara-saudara si empunya rumah.

Saya bukan tak pernah menghadiri pemakaman. Beberapa kali menjadi tuan rumah di upacara pemakaman. Tapi, ketika kejadianya bapak kos meninggal ini saya justru kebingungan, saya harus bagaimana? Datang ke upacara pemakaman pasti. Lalu apa? Bawa beras takziyah seperti layaknya di kampung saya atau bagaimana?

Ternyata hal seperti ini sering tak terpikirkan. Bahwa ternyata, ada hal-hal sepele yang menunjukkan sekalipun saya hidup sendiri, tetaplah saya bagian dari masyarakat. Meskipun minor. Saya lalu ingat, betapa hampir bahkan tak pernah berinteraksinya saya dengan tetangga kos. Sibuk dengan dunia sendiri, sampai kadang-kadang tak sadar apa yang sudah terjadi pada kehidupan di sekeliling kita.

Ah, siapa tak rindu tinggal di kampung...

Oktober 24, 2014

Lupa Luka Lupa



Berbicara soal luka, salah bahwa saya hanya ingat bagaimana saya dibuat luka. Tapi lupa, bahwa saya juga pernah sebabkan luka.


Oktober 13, 2014

Flashback

Beberapa waktu yang lalu, pasca berakhirnya relasi dengan pria yang saya gadang jadi bapaknya anak-anak saya nanti, saya sempat bimbang mau diapakan blog ini. Mengingat banyak sekali tulisan yang isinya tentang dia, dia, dia, lalu dia lagi.

Kembali membaca beberapa postingan pastilah membuat jiwa raga pikiran ini tercabik-cabik. Tapi toh kemudian saya masih terus menulis, semacam selfhealing mungkin. Dan taraaa .... saya putuskan tidak menutup blog ini. Juga tidak membiarkannya berdebu bersarang laba-laba. Atau menghapus postingan yang terkait dengan pria yang pernah membuat saya bahagia itu. Bahkan saya bertekad akan makin sering menulis, yang meskipun wacana seringnya tetap jadi wacana sih.

Saya ingin terus menulis di sini, terus bercerita. Tentang apa saja. Walaupun kebanyakan soal perasaan saja :p. Hanya satu yang tercetus dipikiran saya, kelak saya akan punya anak. Rasa-rasanya, saya ingin meninggalkan jejak agar anak saya di kemudian puluhan tahun mendatang tahu betapa melankolisnya mamanya. Betapa menye-menyenya mamanya kala jatuh cinta, pun dengan patah hati. Karena siapalah saya. Tak akan ada yang tertarik menuliskan kisah hidup saya. Jadi, saya rasa satu-satunya cara ya hanya dengan menulis di sini dan terus menulis di sini. Mudah-mudahan, Yang Di Atas memberi banyak kesempatan pada saya dan anak bahkan cucu saya untuk membaca tulisan ini kembali bersama-sama.

Oktober 11, 2014

Perahu

Aku pernah bermimpi memiliki perahu. Perahu sederhana yang membuat penumpangnya bahagia. Gambar rancangan sudah kupunya. Tapi belum sampai aku punya perahu, gambar itu malah hancur tanpa ada repronya. Aku menangis sampai sesak nafas karenanya.

Aku masih bermimpi memiliki perahu. Kini aku kembali menggambar rancangan. Silakan kau simpan, karena aku percaya gambar ini akan aman. Silakan kau simpan, karena jika suatu saat perahu itu sudah selesai dibuat, kuserahkan padamu dan silhkan kau pimpin pelayaran.

Calon nahkoda, selamat datang.

September 10, 2014

Welcome, home!

Dan perjalanan mencari "rumah" itu tak pernah mudah.

Setelah sekian lama saya merasa tak punya "rumah", kehilangan "rumah", sekarang saya kembali memiliki "rumah". Yang benar-benar saya akui keberadaannya, saya terima apapun kondisinya.

Kini saya kembali merasa punya tujuan, tahu kemana harus pulang, tahu kemana beristirahat ketika lelah datang, tahu kemana meminta pertimbangan ketika ragu, dan -kembali- tahu apa yang saya harus lakukan kemudian.

"Rumah" yang semoga tahan badai. "Rumah" yang semoga selalu bisa menjadi tempat berpegang. "Rumah" sederhana yang semoga bisa membuat saya selalu merasa kaya.

Agustus 07, 2014

A Sky Full of Star

"Matanya aja kosong gitu. Lagu sedih ini." komentar rekan kerja di suatu sore ketika kami mengomentari video klip baru-nya Coldplay A Sky Full of Star. Videoklipnya sih menurut saya sendiri lucu, riang.

Benar. Chris Martin bercerai dari Gwyneth Paltrow beberapa saat sebelum album barunya -yang katanya curhatan dia- rilis. Full selabum sih memang terdengar mellow, begitu mencabik-cabik perasaan dan jiwa. Konon kabarnya, Chris Martin cintanya begitu besar pada sang istri. Beberapa lagu diciptakan dan ditujukan khusus untuk istrinya. Mereka berbahagia dan seperti pasangan lain tak ingin terpisah sampai maut akhirnya hadir.

Tapi cinta, memang rahasia. Tak bisa diduga. Ketika Fix You ditulis lalu menjadi alunan melodi nan memesona, Chris Martin tak pernah menduga bahwa kelak, bertahun-tahun kemudian dia dan sang istri yang memiliki cintanya, akan berpisah juga.

Juni 07, 2014

Luka

Tak perlu mengurai luka,
biar luka aku pendam saja.

Tak perlu juga tahu seberapa besar itu luka,
bahkan pada dunia saja aku malu mengakuinya.

Tak perlu kau gugat waktu,
Karena waktu yang justru sembuhkan lukaku.



Desember 30, 2013

A Quarter Life Reminder

Mungkin tahun depan akan menjadi tahun yang berat. Bagi saya. Mencoba membangun kembali mimpi, angan-angan yang hancur setelah sebelumnya saya pegang teguh erat-erat, bukan perkara mudah.

31 desember hanya mengingatkan saya bahwa keesokan harinya, di bulan dan tahun yang baru, sudah semakin dekat ke hari lahir saya. Dan tahun depan akan seperempat abad usia saya.

Apa yang istimewa? Tidak ada.
Hanya saja, dulu... dulu sekali... saya pernah berangan-angan bahwa di usia itu saya sudah berkeluarga, punya anak bersama kekasih saya. Ternyata memang masih angan-angan.

Sekarang saya sudah meletakkan keinginan itu, mengembalikan kepada semesta. Menyerahkan kepada Pemilik Alam.

~ Sejatinya Yang Di Atas senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.


Agustus 19, 2013

Pulang

Saya pulang, pulkam, mudik, entah apapun itu namanya saya akhirnya kembali ke rumah.

sejak lima tahun yang lalu saya mulai paham makna kata pulang. sejak saya mulai tinggal sendiri sebagai anak perantauan. pulang bukan hanya kembali ke rumah. pulang berarti kembali ke titik awal kenyamanan. dan kenyamanan saya ada diantara kedua orang tua dan adek saya. betapa bermaknanya pulang bagi saya yang memang pada dasarnya anak rumahan.

saya anak rumahan. saya tak suka beraktifitas di luar rumah. semenjak kecil, saya lebih suka bermain rumah-rumahan dengan adek saya, atau masak-masakan di halaman belakang. maka di tiap kepulangan saya ke rumah, jika tak ada sesuatu mendesak yang membuat saya ke luar rumah saya tak akan beranjak. saya lebih suka disambangi dari pada meyambangi. kata ibuk sih saya anaknya malesan. mungkin bisa jadi.

lalu apa yang saya lakukan di rumah, berhari-hari? tak ada. saya begitu menikmati keheningan, jauh dari kebisingan. mungkin balas dendam saya pada keriuhan dan hingar bingar yang sebelumnya saya rasakan.



Mei 30, 2013

Jakarta Jilid Berikutnya


Fix. saya kebagian libur hari jumat dan sabtu. gimana rasanya libur saat yang lain belum libur? biasa aja sih. hahaha
yang pasti, saya tak merasakan "i hate Monday" seperti pegawai pada umumnya yang memulai aktifitas banting tulang di hari Senin. saya justru "i hate Sunday"

Btw, sudah tiga bulan lebih saya di ibukota, dan belum pernah pulang sama sekali. apa rasanya? luar biasa! saya tak pernah merasa rindu rumah serindu ini sekaligus nyaman di kota orang senyaman ini. saya ingat sekali, bagaimana dulu waktu saya jadi perantau di Solo pertama kali. butuh waktu hamnpir berbulan-bulan, bahkan mungkin tahunan sampai saya benar-benar betah di Solo. rasa ingin pulang melebihi apapun.