Februari 08, 2015
Naik Motor Keliling Kota
Februari 07, 2015
I love you because...
Januari 31, 2015
Soal pilih yang mana...
Januari 03, 2015
Lelaki Baik
Desember 30, 2014
Dan demikianlah kehidupan berjalan ...
Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam satu tahun terakhir hidup saya, di perempat usia perhitungan manusia. Bagaimana sesorang yang awalnya paling dekat kini menjadi orang asing, atau bagaimana orang yang awalnya asing kini menjadi orang paling dekat, patah hati tapi sekaligus bangkit untuk berelasi kembali, sudah saya alami. Atau bagaimana saya mulai nyaman -mungkin.malah.terlena.pada.kenyamanan- dengan pekerjaan saya dan kemudian berfikir untuk loncat ke profesi lainnya. Mencoba PNS kemudian gagal. Berencana main ke luar negeri, bahkan mengurus paspor saja masih beribu hal menjadi alasan. Berniat traveling tiap ada kesempatan, tapi selalu lebih pilih pulang menghabiskan cuti panjang.
Satu tahun penuh ujian. Tapi bukankah tiap tahun memang demikian, penuh tawa, berkali-kali tangis duka, jatuh, lalu bangun lagi. Sakit, sembuh. Dan demikianlah kehidupan berjalan.
Don't matter where we're going going now
Desember 25, 2014
Kado
Kado saya sudah datang! Kado yang dibeli dengan uang sendiri untuk diri sendiri. Kadangkala kita abai pada kita sendiri, lupa memberi reward padahal kita sering menyuruh diri sendiri bekerja keras! bukan bekerja keras dalam arti fisik, tapi... bukankah senantiasa berusaha positif di setiap kondisi padahal serangan energi negatif sedang kuat-kuatnya adalah hal tak mudah?
Nah, sekarang saya ingin memberi penghargaan pada diri saya untuk itu.
Apa kadonya? Laptop baru! Setelah hampir dua tahun nulis blog (enggak rajin-rajin nulis juga sih) pakai smartphone yang nyatanya tak lebih nyaman dari komputer.
Sederhana. Tapi bukankah bahagia itu yang demikian kan...
*gambar dari sini
Desember 05, 2014
Mau atau Tidak Mau
November 16, 2014
Undangan
November 14, 2014
Minor Bermasyarakat
Bila di masa sekolah kita diajarkan teori bermasyarakat, kini ketika dewasa seringkali kita dihadapkan untuk praktek bermasyarakat.
Minggu lalu, bapak kos saya meninggal. Karena penyakitnya juga karena usia. Berbendera kuning di depan pagar, malam itu kos mendadak menjadi ramai orang-orang. Saudara-saudara si empunya rumah.
Saya bukan tak pernah menghadiri pemakaman. Beberapa kali menjadi tuan rumah di upacara pemakaman. Tapi, ketika kejadianya bapak kos meninggal ini saya justru kebingungan, saya harus bagaimana? Datang ke upacara pemakaman pasti. Lalu apa? Bawa beras takziyah seperti layaknya di kampung saya atau bagaimana?
Ternyata hal seperti ini sering tak terpikirkan. Bahwa ternyata, ada hal-hal sepele yang menunjukkan sekalipun saya hidup sendiri, tetaplah saya bagian dari masyarakat. Meskipun minor. Saya lalu ingat, betapa hampir bahkan tak pernah berinteraksinya saya dengan tetangga kos. Sibuk dengan dunia sendiri, sampai kadang-kadang tak sadar apa yang sudah terjadi pada kehidupan di sekeliling kita.
Ah, siapa tak rindu tinggal di kampung...
Oktober 24, 2014
Lupa Luka Lupa
Oktober 13, 2014
Flashback
Beberapa waktu yang lalu, pasca berakhirnya relasi dengan pria yang saya gadang jadi bapaknya anak-anak saya nanti, saya sempat bimbang mau diapakan blog ini. Mengingat banyak sekali tulisan yang isinya tentang dia, dia, dia, lalu dia lagi.
Kembali membaca beberapa postingan pastilah membuat jiwa raga pikiran ini tercabik-cabik. Tapi toh kemudian saya masih terus menulis, semacam selfhealing mungkin. Dan taraaa .... saya putuskan tidak menutup blog ini. Juga tidak membiarkannya berdebu bersarang laba-laba. Atau menghapus postingan yang terkait dengan pria yang pernah membuat saya bahagia itu. Bahkan saya bertekad akan makin sering menulis, yang meskipun wacana seringnya tetap jadi wacana sih.
Saya ingin terus menulis di sini, terus bercerita. Tentang apa saja. Walaupun kebanyakan soal perasaan saja :p. Hanya satu yang tercetus dipikiran saya, kelak saya akan punya anak. Rasa-rasanya, saya ingin meninggalkan jejak agar anak saya di kemudian puluhan tahun mendatang tahu betapa melankolisnya mamanya. Betapa menye-menyenya mamanya kala jatuh cinta, pun dengan patah hati. Karena siapalah saya. Tak akan ada yang tertarik menuliskan kisah hidup saya. Jadi, saya rasa satu-satunya cara ya hanya dengan menulis di sini dan terus menulis di sini. Mudah-mudahan, Yang Di Atas memberi banyak kesempatan pada saya dan anak bahkan cucu saya untuk membaca tulisan ini kembali bersama-sama.
Oktober 11, 2014
Perahu
Aku masih bermimpi memiliki perahu. Kini aku kembali menggambar rancangan. Silakan kau simpan, karena aku percaya gambar ini akan aman. Silakan kau simpan, karena jika suatu saat perahu itu sudah selesai dibuat, kuserahkan padamu dan silhkan kau pimpin pelayaran.
September 10, 2014
Welcome, home!
September 02, 2014
Mengupayakan Kebahagiaan
Pagi ini saya random membaca blog tulisan dari orang lain, yang tidak saya kenal, bahkan juga tidak terkenal. Saya membaca banyak kisah, mulai dari sepele kisah keseharian sampai hal indah di luar nalar. Satu hal yang saya temukan, yang menghubungkan cerita-cerita yang saya baca, bahwa kebahagiaan memang harus diciptakan.
Yang harus dimulai dengan membahagiakan diri sendiri. Dan urusan membahagiakan orang lain menjadi kebih mudah ketika tuntas membahagiakan diri sendiri.
Tidak perlu mendengar kata orang untuk berbahagia. Karena masing-masing orang memiliki ukuran yang berbeda dalam berbahagia. Seperti anak kecil yang akan bersuka luar biasa dengan hanya menerima permen coklat favoritnya.
Maka pagi ini saya bersyukur kembali. Berbahagia dengan keadaan saya sekarang. Lalu berusaha tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan pada orang -seperti.yang.saya.lakukan.dulu.pada.masmantan- dan bahwa kebahagiaan selalu bisa diupayakan.
Agustus 18, 2014
Merayakan Kebahagian
0.07
Agustus 07, 2014
A Sky Full of Star
Juli 26, 2014
Singgah
"seringkali, kita harus singgah di suatu tempat, di suatu keadaan lebih dulu untuk benar-benar sampai ke tujuan kita."
Juli 20, 2014
Monolog Penyesalan
Aku bukan Tuhan yang bisa memberimu berkali-kali kesempatan. Setelah bahkan kau dustai Dia, berkali-kali juga.
Aku adalah orang yang hanya menyesalkan, setelah kau lewatkan kesempatan-kesempatan. Meski bahkan kau jungjung tinggi kesetiaan dan kepercayaan.
Juli 02, 2014
Repetisi Kehilangan
Repetisi kehilangan. Sakit yang berulang.
Seperti biasanya, menemukan celotehanmu seperti disebar garam diatas luka. Lalu aku akan lebih bahagia ditelan kesepian. Tak mendengar hiruk pikuk di luaran, karena di sana aku akan menemukanmu. Menemukanmu penuh rasa sakit mendalam. Senyatanya itu menyakitkan bahkan dari seujung jari lukaku sendiri.
Tiga
Batas kesabaran kita masing-masing, ternyata di angka tiga.
Tiga yang bagiku menjadi penanda keseriusanmu dulu.
Tiga yang bagimu ternyata juga adalah batas keseriusanmu kini. Tak akan ada keempat kali bagimu.
Cerita yang sama kembali berulang. Kamu datang, aku masih gamang, kamu hilang.
Dan sekarang untuk kesekian kali kamu datang, aku tetap gamang, kemudian kamu minta ijin menghilang.

