Desember 31, 2011

Cita-cita saya sebenarnya hanya pengen nikah muda!


Nah ya, jadi cita-cita besar saya itu sederhana (sesederhana fisik dan otak saya, lhoh! :p)
Ya, cita-cita saya hanya pengen nikah muda! Bukan, bukan. Bukan karena nikah muda lagi ngetren sekarang, tapi ya memang dari dulu saya pengen nikah muda. Kenapa? Entahlah, pokoknya pengen saja :)
Mungkin juga karena saya pengen jadi mamah-mamah gaul. Sebutan saya untuk para ibu-ibu yang masih muda, yang baru berusia duapuluh sekian-nan. Jadi, ketika nanti mengantarkan anaknya ke sekolah itu masih seger, masih cantik, energik (asumsi tak mendasar :p)

Hanya saja, di usia saya yang kata orang matang-matangnya untuk memulai karir, saya bahkan baru menapaki bidang itu, itupun dengan kagamangan. Nah, saya belum jadi apa-apa dan belum jadi siapa-siapa. Bahkan mau mengarah kemana saya masih labil!. Parah dobel.
Kayak gini mau nikah muda? No. saya bukan orang yang ambisius, tapi belum menjadi sesuatu sebelum saya menjadi istri orang rasanya ada sesuatu yang kurang. Paling tidak harus ada yang saya banggakan ketika nantinya saya harus menikah.

Simulasi percakapan :
Teman suami : akhirnya kamu menikah.. Siapa istri kamu?
Suami : alina, dia Editor di majalah ini. Atau : dia Penulis novel besteller ini. Atau : ia Managing Director di sini, atau : Creative Director di sini, atau : dia PR di hotel ini...

Kan, kan... yang seperti itu kan jauh lebih enak didenger daripada ini :

Teman suami : akhirnya kamu menikah... siapa istri kamu?
Suami : alina. Dia hanya ibu rumah tangga.

Ya begitulah, mungkin bagi yang lain tidak penting. Tapi bagi saya, setidaknya jadi apa saya itulah bekal saya untuk membanggakan orang-orang disekitar saya (suami saya kelak utamanya, orang tua tentu saja) paling tidak untuk saya sendiri.  

Terlalu muluk-muluk ya impian saya? Ya biar, wong gak bayar :p
Jadi, agaknya... sebelum karir saya jelas dan membuat saya puas agaknya cita-cita besar saya nikah muda harus disingkirkan :(

Desember 16, 2011

Maka, seberapa besarkah nyali kita?

tinggal lama di sebuah kotak yang indah, memesona, selalu membuat kita nyaman. benarkah demikian? 
orang menyebut "katak dalam tempurung" bagi sesorang yang enggan keluar, menghadapi realitas dari dunianya yang nyaman. apa kerugiannya? jelas, dia menjadi buta akan kehidupan diluar tempurugnya. maka, bisa jadi kenyamannan yang ditemukannya bsia jadi hanyalah kenyamanan semu. betapa tidak, tinggal ditempat yang nyaman seringkali justru mematikan potensi otak!
padahal, bisa jadi keadaan di luar kotak ternyata jauh lebih indah bahkan lebih istimewa dari keadaan di dalam kotak. ada sebuah perumpaan "gua plato" dalam kondisi ini. seorang tawanan dalam gua yang dibunuh oleh kawan-kawannya karena menunjukkan keindahan di luar gua. mengapa? karena si tawanan yang keluar gua ini dianggap merusak ilusi dan bayangan mereka mengenai kondisi di luar gua. pada akhrinya, mereka sampai mati ada di dalam gua tanpa tahu kondisi di luar gua!!
lalu, sudah beranikah kita keluar dari kotak kita, yang biasa memberi rasa nyaman, yang biasa memberi kita rasa senang untuk menghadapi hal baru lagi. seberapa besar nyali yang kita miliki menghadapi ketidaknyamanan ketidaknyamanan yang pasti datang? bernyalikah kita?


Ruang baru ini saya sebut permen

ya... ruang ini, permen, adalah sebuah ruang baru bagi saya.
sebuah permen. mengapa permen. permen itu berjenis-jenis rasanya dan bentuknya, dikonsumsi pada saat yang tidak penting. 
maka, permen ini saya anggap hanya sekedar ruang untuk mengisi waktu luang, mengonsumsi waktu yang tak penting untuk menyalurkan pemikiran yang terhenti, pendapat yang tertahan, atau pule komenter tak penting lainnya yang berupa-rupa macamnya.
bukan saya berharap menjadi terkenal, atau pula menjadi penting tapi hanya berusaha menjadi bagian kecil dalam dunia yang berupa-rupa.
kembali membiasakan aktivitas menulis, susah, sangat susah diantara kegiatan remeh temeh lainnya. tapi, semoga dari ruang tak seberapa ini saya bisa berarti, minimal untuk saya sendiri.

selamat datang dan silakan mencicipi permen saya...